Sugeng Rawu

Rabu, 29 Februari 2012

I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Air penting bagi kehidupan karena tanpa air maka kehidupan ini tidak akan terjadi. Setiap makhluk hidup membutuhkan air, oleh karena itu kita harus menggunakan air se-efisien mungkin.
Ketersediaan air bersih di permukaan bumi sangatlah terancam. Yang sebabkan oleh aktifitas yang ada. Apalagi kalau kita perhatikan ketersediaan air pada musim kemarau sangat di perhatikan karna ketersediaan air permukaan sangat terbatas pada saat itu, baik yang di butuhkan tanaman maupun yang di butuhkan oleh manusia. Kebutuhan air bagi tanaman haruslah kita berikan sesuai dengan kebutuhan air yang di perlukan oleh tanaman, agar hal dalam pemberian air bagi tanaman dapat dilakuakn se-efisien mungkin.
Sistem aeroponik ini merupakan salah satu cara irigasi yang efisien. Untuk mengurangi penggunaan air bersih di atas permukaan bumi. Pada sistem ini air dapat di atur sesuai dengan kebutuhan, Berbeda dengan sistem hidroponik lainnya yang selalu mengalirkan air sepanjang waktu ( 24 jam).
Selain dari kemampuan untuk menghemat air, sistem aeroponik juga bisa di pakai untuk menghiasi pekarangan rumah atau sebagai taman bagi pemilik rumah. Dengan demikian halaman depan rumah kita akan menjadi lebih menarik dan menambah nilai tambah bagi kita tanpa harus meghabisi lahan yang luas untuk penanaman sayur yang kita inginkan.
1.2. Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya Proyek Usaha Mandiri (PUM) dengan judul “Teknologi Aeroponik Untuk Tanaman Selada Dengan Memanfaatkan Air Kolam Ikan” ini antara lain adalah:
1. Mengetahui pengaruh nutrisi dari feses ikan terhadap pertumbuhan tanaman selada.
2. Mengetahui pertumbuhan tanaman selada pada system aeroponik.
3. Syarat untuk lulus di semester lima.

1.3. Manfaat
Manfaat Dari dilaksanakannya Proyek Usaha Mandiri (PUM) Dengan Judul “Teknologi Aeroponik Untuk Tanaman Selada Dengan Memanfaatkan Air Kolam Ikan” ini yaitu:
1. Menambah pengetahuan di bidang pertanian.
2. Salah satu cara dalam mengurangi penggunaan pupuk.
3. Mengurangi pemanfaatan lahan.
4. Mengatasi kebutuhan tanaman sayuran di perkotaan.



II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Defenisi Aeroponik
Aeroponik merupakan salah satu cara budidaya tanaman hidroponik. Cara ini belum sefamiliar cara-cara hidroponik lainnya (seperti cara tetes, NFT - Nutrient Film Technique). Kalau dilihat dari kata-kata penyusunnya, yaitu terdiri dari Aero + Phonic. Aero berarti udara, phonik artinya cara budidaya, arti secara harafiah cara bercocok tanam di udara, atau bercocok tanam dengan sistem pengkabutan, dimana akar tanamannya menggantung di udara tanpa media (misalkan tanah), dan kebutuhan nutrisinya dipenuhi dengan cara spraying ke akarnya.
Sejarah ditemukannya cara ini berawal dari penemuan cara hidroponik. Selanjutnya dikembangkanlah sistem aeroponik pertama kali oleh Dr. Franco Massantini di University of Pia, Italia. Di Indonesia, perintis aeroponik secara komersial adalah Amazing Farm pada tahun 1998 di Lembang (Bandung). (Leonardo,2011)

2.2. Perbandingan Media Aeroponik dengan Media Tanah
Tanah adalah bagian lapisan bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Mineral dan bahan organik tersebut yang nantinya akan di gunakan oleh tanaman. Sedangkan aeroponik adalah salah satu cara bercocok tanam hidroponik dimana tanah sudah tidak lagi di perlukan untuk berperan dalam pertumbuhan tanaman karna mineral dan bahan organik yang di butuhkan oleh tanaman sudah di berikan ke tanaman lewat cairan yang akan di berikan ke tanamn tersebut.

Tabel 1. Perbandingan menanam di tanah dengan menanam di media aeroponik
No Item Aeroponik Tanah
1 Kebutuhan lahan Luasan yang sempit masih bisa digunakan,kontur lahan tidak harus datar, produktifitas lahan tinggi Harus luas, realtif datar
2 Musim Bisa menanam sepanjang musim Tergantung musim
3 ketersediaan Barang Ada sepanjang tahun tidak selalu ada sepanjang tahun
4 Kualitas Barang Bersih, sehat, renyah, aroma kurang Tidak selalu bersih, belum tentu sehat, relatif liat/alot, aroma kuat
5 Sarana & Prasarana Butuh green house, suplai listrik yang relative besar, tidak butuh sarana yang mahal
6 Teknologi teknologi menengah – tinggi teknologi sederhana
7 Operator harus mengerti teknologi tidak harus mengerti teknologi
8 Investasi Awal sedang - besar kecil - sedang
9 Waktu Pendek (1 bulan panen), tanpa pengolahan lahan, setiap hari tanam-setiap hari panen Sedang-panjang (1,5 – 2 bulan panen), ada waktu untuk pengolahan lahan, tidak bisa setiap saat tanam dan panen
10 Kebutuhan Nutrisi Terpenuhi karena kita bisa mengaturnya dengan ukuran (formula) yang pasti. Tidak selalu (pemenuhan kebutuhan nutrisi sulit diukur dengan tepat)
11 Hama dan Penyakit Relatif aman, terlindung oleh green house Beresiko karena ruang terbuka
12 Fleksibilitas Tanaman dapat dipindah-pindah tanpa tanpa mengganggu pertumbuhan Tanaman tidak bisa dipindah-pindah, tanaman akan stress.
13 Kecepatan Adaptasi Saat pindah tanam, bibit bisa langsung tumbuh tanpa aklimatisasi lama Aklimatisasi lama
(sumber: Leonardo, 2011)
2.3. Prasarana dan sarana aeroponik
A. Prasarana Serra
Menurut Yos Sutiyoso (2003), serra atau greenhouse merupakan bangunan yang di buat untuk melindungi tanaman dari gangguan luar. Dengan menggunakan serra, hujan dapat dihindari dan serangan penyakit dapat dikurangi.
1. Serra Plastik(helaian – sheet)
Serra plastik di bangun dengan rangka yang terbuat dari kayu atau bambu. Adapun atapnya menggunakan helaian plastuk UV (ultra violet). Sisi serra plastik hendaknya di kelilingi dengan kasa (screen) plastic untuk menghindari hama masuk.
2. Serra net
Atap serra dapat terbuat dari net plastik hitam. Net hitam dapat merendam atau mengurangi intensitas cahaya. Namun hujan dapat menembus net tersebut sehingga kebun sering basah dan akibatnya tanaman lebih mudah terserang penyakit cendawan. Hama pun masih dapat masuk ke dalam serra melalui lubang – lubang net yang relative besar.
3. Serra kasa
Tersedianya kasa (screen nylon) atau yang lebih dikenal sebagai kasa nyamuk, memungkinkan untuk membuat serra kasa. Kasa ini ada yang berwarna putih, hijau, kuning muda, dan biru. Bila menggunakan kasa putih maka cahaya akan lebih leluasa masuk ke dalam serra. Untuk beberapa jenis sayuran tertentu, cahaya matahari yang melimpah sangat di harapkan untuk meningkatkan produksi. Kasa dapat di tembus oleh hujan sehingga lahan menjadi becek dan lembap, tanaman mudah terserang penyakit cendawan. Air hujan dapat terakumulasi di bagian tengah kasa sehingga bagian tersebut menggelendong. Tetesan air yang keluar dari bagian tersebut umumnya berukuran besar sehingga dapat merusak dan mematahkan daun.

B. Prasarana Sistem Irigasi
Menurut Yos Sutiyoso (2003), sistem irigasi di dalam serra memerlukan perencanaan yang cermat. Untuk mengalirkan dan mendorong air, di gunakan pompa. Pompa air dipilih yang bertekanan tinggi dan bervolume besar agar dapat memberi pancaran kabut pada puluhan sprinkler sekaligus.
Mengingat aeroponik rentan terhadap matinya listrik, sebaiknya disiapkan genset atau generator yang dinyalakan bila listrik mati. Menyalakan genset dapat dilakukan secara manual atau otomatis dengan bantuan alat tambahan. Bila listrik mati pada malam hari, sebenarnya tanaman masih dapat bertahan karena suhu udara dan evapotranspirasi rendah.

C. Prasarana Peralatan
Menurut Yos Sutiyoso (2003), beberapa peralatan yang perlu tersedia bila akan menerapkan system aeroponik yaitu EC-meter, TDS-meter, pH-meter, oksigen-meter, higrometer, dan termometer.
1. EC-meter
Alat EC-meter merupakan alat untuk mengukur kepekatan hara dalam larutan. Satuannya adalah µS/cm atau µmho/cm.
2. TDS-meter
Total dissolved solutes/solids merupakan jumlah bobot garam – garam yang terlarut.Angka yang tertera pada monitor alat mempunyai satuan ppm.
3. pH-meter
Penggunaan pH-meter dengan di celupkan ke dalam larutan hara. Angka pH akan terlihat pada monitor, lengkap hingga komanya.
4. Oksigen-meter
Pengukuran oksigen terlarut yang paling tepat ialah pada zona perkaran. Namun, ini tidak dapat di lakukan karena alat dapat bekerja bila dicelupkan ke dalam larutan.
5. Higrometer
Higrometer dipasang di tengah pertamanan, tepatnya sekitar 30 cm di atas tajuk tanaman. Dengan demikian, kelembapan yang tercatat merupakan kelembapan di sekitar tajuk tanaman.
6. Thermometer
Alat pengukur suhu atau temperature kadang disatukan dengan hygrometer sehingga pengamatannya hanya sekali. Termometer tersedia beberapa macam, misalnya thermometer basah-kering yang disertai table untuk menafsirkan RH pada suhu itu atau terometer tunggal untuk mengukur suhu udara saja.




D. Sarana Produksi
Menurut Yos Sutiyoso (2003), komponen sarana produksi yaitu komponen yang hanya sekali pakai habis, seperti benih, media semai, pupuk, dan pestisida. Pupuk yang di gunakan dapat diramu sendiri atau dibeli. Perusahaan yang besar biasanya meramu sendiri berdasarkan rumus tertentu sehingga lebih fleksibel dan disesuaikan dengan keadaan cuaca maupun iklim.

2.4. Jenis Tanaman Aeroponik
Peluang kebutuhan akan sayuran berkualitaas sangat terbuka dengan makin banyaknya masyarakat yang berbelanja ke pasar swalayan. Diversivikasi jenis sayuran perlu dilaksanakan untuk memenuhi berbagai permintaan pasar. Hingga saat ini jenis sayuran yang banyak dibudidayakan secara aeroponik antara lain berbagai kultivar selada (lettuce keriting hijau, cos/romaine, butterhead, batavia, lollo rossa, iceberg, head lettuce), pakchoy hijau dan putih, caysim, dan kailan serta horenzo yang baru mulai dikembangan. Kangkung dan bayam juga dapat diusahakan secara aeroponik.
Dapat disimpulkan bahwa jenis tanaman yang sering dibudidayakan secara aeroponik pada umumnya berupa sayuran daun yang waktu panennya sekitar satu bulan setelah pindah tanam. Harga jual komoditas tersebut juga dipilih yang dapat memberikan keuntungan maksimal. Tanaman rempah penyedap masakan, seperti oregano, parsley, thyme, dill dan basil dapat diusahakan dalam volume kecil. Namun karena harga jualnya tinggi maka konsumen atau target pasar ke hotel berbintang dan restoran eksklusif.(Rahayu Hidayati, 2003)

2.5. Unsur Hara dan Pembuatan Pupuk
2.5.1. Unsur Hara yang Dibutuhkan Tanaman
Unsur C, H, dan O mutlak di perlukan oleh tanaman. Ketiga unsur tersebut di peroleh dari gas CO2 dari udara serta air H2O. Tanpa gas CO2, proses fotosintesis tidak terjadi. Selain C, H, dan O, ada unsur hara essential lainnya yang jumlah kebutuhannya banyak dan sedikit. Unsur hara esnsial yang dibutuhkan dalam jumlah banyak di sebut makro, sedangkan yang di butuhkan dalam jumlah sedikit disebut mikro. Unsur yang termasuk unsur hara makro yaitu N, P, K, Ca, Mg, dan S, sedangkan hara mikro meliputi Fe, Mn, Cu, Zn, B, dan Mo. Pada sistem aeroponik, semua unsur hara tersebut harus disediakan dan diantarkan ke tanaman. Unsur Co, Ni, dan Cl kadang di masukkan dalam hara mikro untuk beberapa kasus dan jenis tumbuhan tertentu serta keperluan akademis khusus.
2.5.2. Meramu Pupuk untuk Sayuran Daun Aeroponik
Bahan yang di gunakan dalam meramu pupuk sayuran daun dikelompokkan menjadi dua, yaitu pekatan A dan pekatan B.
Cara membuat pekatan A dan pekatan B sebagai berikut.
1. Ambil ember A dengan kapasitas 5 liter, lalu isi dengan air sekitar 3 liter. Kemudian masukkan 660 gram kalsium ammonium nitrat, 510 gram kalium nitrat, dan 23 gram Fe-EDTA 13,2% tambahkan air hingga batas 5 liter. Aduk larutan tersebut hingga rata dan larut. Dengan demikian, telah siap pekatan A sebanyak liter.
2. Ambil ember B dengan kapasitas 5 liter, lalu isi dengan air sekitar 3 liter.Kemudian masukkan semua bahan kimia ubtuk pakatan B.(Yos Sutiyoso,2003)

2.6. Instalasi Sistem Aeroponik
Bahan yang di perlukan untuk instalasi aeroponik telah di sesuaikan dengan bahan – bahan yang terdapat di Indonesia,yaitu:
1. Rangka dengan ukuran tinggi 75 cm, lebar 1m, dan panjang sesuai dengan lahan.
2. Helaian plastik hitam selebar 180 cm, tebal 150 mikron,dan panjangnya sepanjang bed.
3. Selang PE 19 cm.
4. Sprinkler dengan radius daya tembak 125 cm dan flowrate 50 l/jam, pancaran berbentuk lingkaran penuh
5. Styrofoam dengan densitas medium, tebal 3 cm, dipotong berukuran 1 m x 1 m dan setiap 15 cm x 15 cm diberi lubang tanam berdiameter 1,5 cm.
6. Pompa bertekenanan tinggi dan berkapasitas sekitar 200 l/menit.Pompa dapat terus menerus tanpa henti.
Rangka bambu didirikan sebagai penyangga dan biasanya disebut bed. Panjang bed antara 10-20 m.di atas bed dipasangi plastic hitam berbentuk seperti huruf V. Tepinya di jepit dengan bambu dan rangka agar tidak jatuh.
Di dasar selang tersebut di letakkan selang PE berdiameter 19 mm. Selang PE di tancapi sprinkler ialah 50 l/jam atau 0,83l/menit dengan ukuran butiran sekitar 500 mikron dan jarak tembak satu meter.
Kedua ujung selang PE disambungkan dengan paralon yang akan bermuara di sebuah kolam tendon. Di dalam kolam di letakkan pompa bertekanan tinggi.
Di atas plastik hitam di letakkan stryrofoam dengan densitas medium, panjang 200 cm, lebar 100cm, dan tebal 3 cm. Tiap 15 x 15 cm pada Styrofoam di buatkan lubang tanam untuk ditanami anak semai sayuran. lubang tanam berbentuk kerucut terbalik dengan bagian atas lubang berdiameter 3 cm dan bagian bawah lubang 1,5 cm. (Yos Sutiyoso, 2003)
Berikut adalah contoh desain aeroponik

Gambar 1. Aeroponik

2.7. Saluran Irigasi Sistem Aeroponik
Larutan hara di pancarkan terus menerus tanpa henti. Pancaran tersebut harus mengenai akar tanaman. Larutan hara yang tidak terserap akar akan jatuh ke dasar plastik, lalu di alirkan ke kolam tendon secara gravitasi. Dari kolam tendon, larutan fara di pompakan kembali ke selang PE untuk di pancarkan ke tanaman. Demikian sirkulasi larutan hara yang berjalan tanpa henti.
Pada sistem aeroponik kadang terjadi penyumbatan springkler oleh kotoran, misalnya sisa busa atau rockwool maupun akar yang mati. Solusi terhadap masalah ini ialah di gunakan screen atau disc filter sebagai penyaring kotoran. Filter ini perlu di bersihkan setiap hari, jangan terlewatkan. Bila ada sprinkler yang tersumbat, akar tanaman tidak akan cukup mendapat pancaran larutan hara sehingga tanaman akan layu dan pertumbuhannya stagnan. (Yos Sutiyoso, 2004)

2.8. Nutrisi dan Feses Ikan
Untuk membuat nutrisi ini dibutuhkan beberapa senyawa yang mengandung unsur-unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur-unsur hara tersebut terbagi menjadi unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro merupakan unsur hara essensial yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif banyak. Ada beberapa macam unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman, yaitu nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan belerang (S). Sedangkan unsur hara mikro yaitu unsur hara essensial yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif sedikit, yaitu besi (Fe), mangan (Mn), boron (Bo), seng (Zn), dan molybdenum (Mo). Unsur-unsur hara tersebut sudah tersedia dalam berbagai senyawa kimia seperti:
1. Unsur makro : 5 Ca(NO3) 2.NH4.NO3.10H2O, KNO3, KH2PO4, dan MgSO4.7H2O.
2. Unsur mikro : Fe EDTA, MnSO4.4H2O, H2BO3, ZnSO4.7H2O,CuSO4.5H2O, dan H2MoO
Pada penelitian kali ini kita menggunakan ikan sebagai penyedia unsur hara yang di butuhkan oleh tanaman yaitu yang kita gunakan dari ikan tersebut adalah feses atau kotoran dari ikan tersebut. Menurut Estu Nugroho (2008), kandungan racun yang sering kali di hasilkan dari suatu usaha budi daya ikan umumnya dalam bentuk amonia. Ternyata kandungan racun tersebut dapat di reduksi oleh tanaman hingga 90% dari kadar yang ada sehingga air tersebut masih layak digunakan kembali sebagai media dalam pemeliharaan ikan.
Adapun persyaratan kualitas air media yang layak untuk budidaya ikan yaitu:
Tabel 2.Kualitas Air Media Yang Layak Untuk Budidaya Ikan
Parameter satuan kulitas air
suhu Celcius 24-32
CO2 ppm >2
pH 6,5-8,5
O2 ppm 4,21-5,43
alkalinitas ppm 50-200
(sumber: Cahyo Saparinto, 2008)


2.9. Kebutuhan Air Tanaman Selada
Menurut Sahat M Sibarani (2005), kebutuhan air tanaman adalah jumlah air yang di gunakan untuk memenuhi evapotranspirasi tanaman agar tanaman dapat tumbuh normal. Kebutuhan air tanaman teoritis dihitung dengan menggunakan metoda Blanley and Criddle yang telah dirubah.
Besarnya nilai evapotraspirasi tanaman (Etc) pada setiap periode pertumbuhan dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Kebutuhan Air Tanaman
Periode Pertumbuhan Kc K Evapotranspirasi Tanaman (mm/hari)
Awal 0,35 0,38 2,,32
Tengah 0,95 1,03 5,90
Akhir 0,90 0,98 5,94
Periode awal pertumbuhan : 0-9 hari setelah pindah tanam
Periode tengah pertumbuhan : 10-18 hari setelah pindah tanam
Periode akhir pertumbuhan : 19-28 hari setelah pindah tanam
Menurut Edi Joniarta (2010), penentuan kebutuhan air tanaman sebagi berikut:
ETc = ETo x kc
Dimana :
Etc : Kebutuhan air tanaman
ETo : Evapotranspirasi tanaman referensi
Kc : Koefisien tanaman
Jadi kebutuhan air tanaman selada adalah
Etc selada = 4 x 0,575
=2,3 mm/hari.
III. METODE PELAKSANAAN
3.1. Tempat dan Waktu PUM
Tempat untuk melakukan PUM ini adalah di rumah kaca Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh selama tiga bulan yaitu bulan September 2011 sampai dengan Januari 2012.

3.2. Bahan dan Alat
Tabel 4. Bahan dan alat
Alat Fungsi Jumlah
Pompa Untuk memompa air 1 unit
Pipa Untuk menyaluran air 1 batang
Gabus Untuk media tanam 2 buah
Besi Untuk membuat rangka kolam air 2 batang
Kawat Untuk menyangkutkan kabel 3 meter
Plastik Untuk menampung air 2 meter
Nozel Untuk menyemprot air 6 buah
Sambungan T Untuk menyambung pipa 3 buah
"L" bow Untuk menyambung pipa 4 buah
Kabel Untuk merangkai aliran listrik 3 meter
Cok Sambung Untuk merangkai listrik 1 unit


3.3. Metode Pelaksanaan
Tata cara pelaksanaan dalam PUM ( Proyek Usaha Mandiri ) dibagi dalam beberapa tahap yaitu:
3.3.1. Mendesain dan merakit Sistem Aeroponik
Langkah Kerja
1. Sediakan alat dan bahan.
2. Buatlah rangkaian lisrik dengan panjang kabel 3 m
3. Potonglah pipa sepanjang 40 cm sebanyak 2 batang, pipa sepanjang 22 cm sebanyak 6 batang dan pipa sepanjang 25 cm sebanyak 1 batang.
4. Potonglah besi sepanjang 70 cm, 72 cm dan 56 cm masing – masing sebanyak 4 batang.
5. Potonglah triplek atau bahan sejenisnya dengan panjang 72 cm lalu lebar 70 cm dan tinggi 35 cm.
6. Lubangi pipa yang panjangnya 22 cm tepat di tengahnya yaitu pada jarak 11 cm. Usahakan lubang tersebut sejajar.
7. Lubangi pipa yang panjangnya 40 cm yaitu 2 lubang pada jarak 5 cm dari setiap tepi dan 1 lubang tepat di tengahnya yaitu pada jarak 20cm.
8. Usahakan lubang tersebut hanya pas dengan nozzle. Karna pada lubang tersebut akan di pasang nozzle.
9. Pasanglah nozzle pada lubang yang telah di buat.
10. Buatlah rangkaian seperti gambar berikut.

Gambar 2.Desain Sistem Aeroponik
Gambar 3. Rangkaian Pipa

3.3.2. Penyiapan media tanam
Styrofoam yang sudah di sesuaikan ukurannya yaitu panjang 72 cm dan lebar 70 cm di lubangi sebanyak 16 lubang yag nantinya akan di tumbuhi oleh tanaman yang akan di tanam. Jarak tanam yang pakai yaitu 5 x 5 cm usahakan lubang tersebut berada di tengah agar akar tanaman tersiram sempurna oleh air dari nozzle.
3.3.2.1. Penyemaian benih salada
Dilakukan dengan cara
1. Siapkan tanah ,pasir dan pupuk organik (urin sapi yang sudah di dinginkan).
2. Ambil 1 : 1 : 1 antara tanah ,pasir ,kotoran sapi.
3. Aduk sampai rata.
4. Masukkan hasil pengadukan ke dalam seed bed.
5. Ratakan bagian atas seed ber tesebut.
6. Semai bibit salada 2 biji tiap lobang seed bed.
7. Siram secukupnya dengan sprayer.
8. Simpan di tempat yang aman dari jangkauan hama.

3.3.2.2. Pemindahan tanaman
Pemindahan benih dilakukan dengan cara:
1. Ambil benih yang sudah siap pindah.
2. Siram bagiam pangkal tanaman benih dengan air.
3. Setelah tanahnya lunak lakukan pencabutan usahakan akarnya tidak putus.
4. Tanam pada sistem aeroponik yang sudah kita buat.





3.3.2.3. Pemeliharaan Tanaman
Dalam proses perawatan tanaman mencakup beberapa kegiatan yang harus dilakukan yaitu : penyemprotan air dari bak air, pemberian nutrisi.
Dalam proses penyemprotan air dan pemberian nutrisi pada tanaman sistim kerja air disemprotkan secara terus menerus ke arah akar tanaman sehingga akar tanaman tersebut basah oleh air nutrisi. Usahakan agar semua tanaman tersiram. Karna jika tidak tersiram maka tanaman akan mati.
Dalam pemberian nutrisi pada tanaman selada, nutrisi yang akan di berikan berasal dari feses ikan dan kotorannya. Sehingga kita tidak perlu lagi untuk memberikan nutrisi untuk tanaman karna sudah terpenuhi oleh feses ikan dan urinnya. Oleh karna itu ikan yang ada pada sistem aeroponik harus di beri maka agar tidak mati. Jadi perawatan yang kita lakukan hanya memberi makan ikan.
Selanjutnya nozzle sering kali tersumbat karna adanya partikel yang terbawa oleh pompa dan akibatnya air yang keluar dari nozzle tersebut jadi terhambat. Cara membersihkanya yaitu dengan melepas bagian atas nozzle tersebut dan membuang kotoran yang menyumbat pada nozzle tersebut. Oleh karna itu nozzle tersebut harus sering di perhatika bila mana nozzle tersebut tersumbat.





3.4. Pengamatan
3.4.1. Nutrisi
Pengamatan nutrisi ini dilakukan dengan cara mengukur pH (derajat keasaman) dan nilai EC (daya hantar listrik) nutrisi yang digunakan dengan mengunkan alat pH dan EC meter. Pengamatan dilakukan sekali dalam satu minggu.
3.4.2. Tanaman
Pengamatan yang dilakukan pada tanaman salada yaitu : tinggi tanaman dan berat tanaman.
3.4.2.1. Tinggi tanaman
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan :
1. Pengukuran dari batang bawah di permukaan media sampai ke ujung daun tertinggi.
2. Pengukuran dilakukan 1x seminggu.
3. Lakukan pada tiap tanaman pada media tanam.
4. Pengukuran pada tanaman dari awal pengukuran harus pada tanaman yang sama.





IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Larutan Nutrisi
Hasil Pengamatan dapat di lihat pada Tabel 5 dan Gambar 1
Tabel 5. Hasil Pengamatan
Waktu Pengamatan pH EC Suhu Rata - Rata Tinggi Tanaman
Minggu 1 6,72 313 26,6 0,625
Minggu 2 6,38 367 28,5 1,025
Minggu 3 6,52 370 30,4 2,125

Dari pengamatan di atas maka di dapat kita lihat bahwa EC yang teramati kurang dari EC yang ada di standar untuk tanaman selada.dan itu bisa kita tanggulangi dengan menambahkan pupuk.Tetapi harus memperhatikan pH agar tetap normal.Untuk mempertahankan pH dapat kita tanggulangi dengan menambahkan air aki(H2SO4) atau gandasil
4.1.2. Tanaman
Hasil Pengamatan pada pertumbuhan tanaman dapat dilihat pada tabel 6 dan grafik 1






Tabel 6. rata – rata hasil pengamatan tinggi tanaman
Tanaman n Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3
Tanaman 1 1 1 1.5
Tanaman 2 0.5 1 2
Tanaman 3 0.3 1 1.5
Tanaman 4 1.5 1.5 2
Tanaman 5 0.3 1 1.5
Tanaman 6 0.5 0.5 2.5
Tanaman 7 0.3 1 2.5
Tanaman 8 0.3 1 2
Tanaman 9 0.5 1 1
Tanaman 10 1.5 1 2.5
Tanaman 11 0.3 1 2.5
Tanaman 12 1 1 2
Tanaman 13 0.5 1 3
Tanaman 14 0.5 1 3
Tanaman 15 0.5 1 3
Tanaman 16 0.5 1 1.5
Jumlah Tinggi 10 16 34
Rata - Rata 0.625 1 2.125

Dari Tabel di atas maka dapat kita lihat pertumbuhan tanaman setiap minggunya.Tanaman dapat tumbuh karna nutrisi yang di berikan tidak terhenti sehingga tanaman tersebut dapat tumbuh dengan normal.







Dan adapun grafik dari rata – rata pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut:

Gambar 4. Grafik Tinggi Tanaman


Dari grafik di atas maka dapat kita ihat tanaman pada minggu ke tiga tumbuh dengan cepat ,ini di sebabkan dengan bertambah besarnya ikan yang merupakan sumber nutrisi bagi tanaman.Jadi semakin besar ikannya maka feses yang di hasilkan akan semakin banyak sehingga nutrisi yang di berikan ke tanaman bertambah.


 
V. Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dalam pelaksanaan Proyek Usaha Mandiri (PUM) ini yang berjudul “teknologi aeroponik utntuk budi daya tanaman selada dengan memanfaatkan air kolam ikan” ini adalah sebagai berkut:
1. Nutrisi yang terkandung dalam feses ikan dapat di manfaatkan oleh tanaman sebagai unsur hara bagi tanaman
2. Semakin besar ikan maka pupuk yang di hasilkan semakin banyak sehingga tanaman dapat tumbuh pesat akibat makanan yang cukup.
3. Makanan bagi ikan berpengaruh kepada pH nutrisi dan air.sehingga pH nutrisi harus di perhatikan setiap pemberian pakan ikan.
5.2. Saran
Dengan teknologi aeroponik untuk budidaya tanaman selada dengan memanfaatkan air kolam ikan, maka kita harus memperhatikan pH dan EC air karna dengan pH yang normal dan EC air yang sesuai dengan tanaman maka tanaman dan ikan akan dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna.




Daftar Pustaka

Leonardo.2011,http://aeroponik-leo.blogspot.com/,23 januari 2012.13.41 WIB.
Leonardo.2011,http://aeroponik-leo.blogspot.com/ 23 januari 2011 pukul 14.09 WIB.
Rahayu Hidayati.2010,http://blogs.unpad.ac.id/rahayuhidayati/2010/06/12/cara-tanam-aeroponik/ 24 januari 2012 pukul 11.31 WIB.
Estu Nugroho dan Sutrisno.2008,Budidaya Ikan & Sayuran Dengan Sistem Akuaponik,Penebar swadaya.Jakarta.
Yos Sutiyoso.2003,Aeroponik Sayuran:Budi Daya dengan Sistem Pengabutan,Penebar Swadaya,Jakarta.
Yos Sutiyoso.2004,Hidroponik Ala Yos,Penebar Swadaya,Jakarta.
Cahyo Saparinto.2008,Panduan Lengkap Gurami,Penebar Swadaya,Jakarta
Sahat M Sibarani.2005.Analisis Sistem Irigasi Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) Pada Budidaya Tanaman Selada (Lactuca Sativa Var.Crispa L.),Universitas Sumatera Utara,Sumatera Utara.
Edi Joniarta.2010,BKPM Unsur Hara Dan Pemupukan,Politeknik Pertanian Universitas Andalas,Payakumbuh.



 
Lampiran
Foto1.Sistem Aeroponik
Foto 2. Sistem Aeroponik 1